Kamis, 22 Maret 2012

Merelakan CINTA gue demi SAHABAT

            Cinta dan sahabat, dua hal yang tidak mudah untuk dimengerti. Terkadang bisa sangat berarti, namun dalam hal itu bisa membuat luka sangat perih. Gue adalah orang yang berada di tengah-tengah cinta dan sahabat itu. Sekarang, gue yang begitu merindukan hadirnya seorang kekasih dalam hidup gue.

*****
            Hari pertama gue belajar di kelas X, gue mulai menemukan teman yang bisa mengerti keadaan gue. Dia bernama Vina. Hari demi hari gue lewati dengan sahabat baru gue itu. Dia sahabat yang paling baik  untuk gue. Setiap hari gue melampiaskan kemarahan, kesenangan dan kesedihan kepada sahabat gue itu.

 *****

            Pada suatu hari, gue sedang duduk diteras depan kelas sambil membaca buku, seorang teman gue menghampiri gue, tetapi anehnya dada gue berdenyut kencang saat gue dihampiri temen gue, sebut saja Alvin.

            “Din, lu baca buku apa?”

            Gue egga ada respon sama sekali. Gue hanya bisa diam dan mulut gue tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Alvin. Bibir gue bergetar seakan orang yang sedang kedinginan.

            “Aduh, ada apa dengan gue?”, gumam gue didalam hati.

            Tiba – tiba Vina memanggil gue untuk masuk ke dalam kelas.

            “Sory vin, gue dipanggil Vina ke dalam kelas”.
            Gue tiba- tiba pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Alvin. Alvin merasa bingung dengan sikap gue itu. Gue menghampiri Vina didalam kelas.

            “Ada apa Na? Ko tiba – tiba manggil gue begitu saja”.

            “tidak apa – apa ko. Ini ada tugas kelompok kimia Din, kebetulan
             kita sekelompok and kita juga sekelompok sama Alvin Din”.

            “Ouh apa iya? Ya udah kita ngerjakan tugas itu dirumah gue aja”
.
            “Ya..oke ! gue memberitahu Alvin terlebih dahulu”

*****
            Akhirnya pulang sekolah gue, Vina dan Alvin kerumah gue untuk mengerjakan tugas kelompok tersebut. Dari situ gue mulai ada rasa sama Alvin dan gue juga mulai sms-an dan telepon – teleponan ma Alvin.

*****
            Hari demi hari gue lewati dengan memendam perasaan ini. Tetapi tidak disangka, seorang Alvin juga memendam rasa pada gue. Dia menyatakan rasa cintanya pada gue. Dia menyatakan cintanya saat gue makan di kantin sekolah. Dikantin gue tidak sendirian, tetapi gue juga sama Vina waktu itu.

            “Din, gue sebenarnya ada rasa sama lu”.

            Dengan nada bercanda gue pun menjawab,

            “Rasa apa? Rasa jambu, apel, anggur apa rasa cokelat?..hehehe”.

            “Bukan rasa itu, tapi gue ada rasa cinta ke lu, maukah lu
             jadi belahan hati gue?”

            Guepun terkejut, gue tidak menyangka, cowok seperti Alvin, yang keren, cakep, pintar pelajaran dan pinter bergaul, mempunyai rasa kepada anak seperti gue. Dengan nada heran gue menjawab pertanyaan Alvin,

            “lu mau menjadikan gue sebagai belahan hati lu ? Semalem
             lu ngimpi apa? Apa tidak salah?”

            “Iya, gue menyimpan rasa ma lu dari kita pertama masuk
             SMA, gue cinta dan sayang ma elu, sekali lagi gue tanya
             kepada lu, maukah lu jadi pacar gue?”

            GUe hanya bisa menganggukan kepala dan tidak bisa mengungkapkan dengan kata – kata. Dan kita pun menjalin hubungan.

*****
            Hari-hari bahagia pun mulai kami lalui. Alvin begitu indah di mata gue, yang membuat gue lupa akan segalanya bila bersamanya. Itu juga yang membuat gue merelakan hati gue dipenuhi oleh cintanya. Namun gue terlalu bodoh hingga gue pun tidak menyadari Vina merasakan sakit hati. Vina sahabat gue orang yang kupercaya seutuhnya, orang yang selalu berusaha ada untuk gue dan orang yang kesehariannya buat pelampiasan kemarahan gue. Ternyata selama ini menyimpan sakit hatinya sendirian, dia sakit hati karena dia menyimpan rasa kepada Alvin.

*****
            Pada suatu pagi, gue melihat Vina sedang menangis didalam kelas karena melihat gue ma Alvin berangkat sekolah bersama. gue menghampiri dia yang sedang menangis
.
            “Lu kenapa Na? Nangis kenapa? Ada masalah apa? Lu ko
             egga cerita ke gue Na?”

            Vina terdiam membisu, dia tidak menghiraukan kata – kata gue. Kata – kata gue dianggap seperti angin lalu. Tiba – tiba Vina melontarkan kata – kata,

            “Lu egga tau perasaan gue yang sakit bagaikan tergores pisau
             tajam?”.

            “Loh..sakit kenapa Na? Lu patah hati ma siapa Na?”

            “Sama ELU !!”

            Gue hanya bisa diam mendengar kata – kata itu, gue berfikir didalam hati

            ”apa Vina mempunyai rasa ke Alvin?”.

            Gue sangat kebingungan karena Vina hanya mengakatakan kata – kata itu. Tidak ada penjelasan kalau dia memendam rasa kepada Alvin.

*****
            Keesokan harinya, akhirnya Vina mengaku kalau dirinya memendam rasa ke Alvin. Dan gue pun tidak bisa melakukan apa – apa. Alvin pun tahu kalau Vina mempunyai rasa kepada dia.

*****
            Satu bulan pertama hubungan cinta gue bersama Alvin mulai goyah, Alvin mulai berubah dan tidak lagi Alvin yang selalu tersenyum untuk gue. Alvin tidak juga bersifat manis pada gue, setiap tutur katanya yang menyejukkan hati gue kini terasa mengiris-iris hati gue. Apa yang telah kulakukan padanya hingga dia begitu tega pada gue, gue begitu percaya padanya hingga gue pun terluka olehnya.
            Hubungan ini berakhir begitu saja, pertemuan singkat itu menjadi menyakitkan. Sahabat pun menjadi pelarian sedih dan kecewa, tapi sahabat gue tega mengkhianati gue. Dia yang ternyata merebut Alvin dari gue, dia merenggut semua kebahagiaan gue . Persahabatan yang telah  kubina bersama pun menjadi tidak berarti. Gue lelah dengan semua ini hingga gue sempat memutuskan tali persahabatan itu, egoiskah gue?
            Gue hanya belum bisa berpikir jernih saat itu, gue merasa semakin bodoh, seharusnya  guebisa merelakan Alvin dan Vina untuk bersama. Karena mungkin kebahagiaan Alvin hanya ada pada Vina ! Gue belum siap kehilangan kebahagiaan itu, gue masih ingin disayangi walau semua itu hanya kebohongan. Gue tidak mau merasakan sakit hati ini lagi. Akankah sakit ini akan terganti saat gue melihat kebahagiaan orang yang gue cintai dan sahabat gue?
            Andai saja  gue sadari dari awal, andai saja gue lebih mengerti perasaannya Vina, andai saja gue tidak jatuh hati pada Alvin. Orang yang  gue cintai. Semua ini mungkin tidak bakal terjadi. Gue dapat mengerti tidak ada gunanya gue bertahan di sisilu, karena ternyata elu lebih menginginkan Vina mengisi hari-harilu. Gue di sini yang begitu tulus mencintailu dan gue yang selalu berusaha untuk mengerti dirilu, akan selalu menanti dan menata hati lagi hingga bayangan elu pergi hingga tidak ada lagi luka gue rasa, hingga tidak ada lagi kekecewaan yang terasa. Gue di sini akan selalu berusaha tegar menjalani hari-hari gue, gue akan selalu berusaha tersenyum agar elu bisa bahagia bersama Vina sahabat gue. Walaupun dia telah merebutlu, tetapi dia tidak pernah gue lupakan, dia tetap sahabat gue, yang paling baik dan Vina segalanya buat gue.
           
*****
            Kini dalam setiap hari-hari sepi gue, dalam kesendirian gue, gue hanya bisa berharap gue akan memiliki kekasih gue lagi, memiliki dia yang telah pergi, karena gue akan selalu mencintainya. Gue akan selalu mengenangnya di dalam hati gue, karena dia telah datang dan pergi dengan menghiasi setiap sudut didalam hati gue dengan cintanya yang sesaat, dan sahabat gue, buatlah cinta gue bahagia karena kalian begitu berarti untuk gue.



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar